Festival Persahabatan Internasional 2026 di Atambua, Dr. Anthony Greco Ajak Bangun Persahabatan Lintas Iman

anthony greco
Pendeta Dr. Anthony Greco menyampaikan sambutan di Aula Betelalenok, Atambua, Kabupaten Belu, Rabu malam (1/7/2026). (Foto: Prokopim Belu)
  • Bagikan

Atambua, RakyatBELU.ID – Festival Persahabatan Internasional 2026 resmi dibuka melalui kegiatan Friendship Dinner yang berlangsung di Aula Betelalenok, Atambua, Kabupaten Belu, Rabu malam (1/7/2026).

Pembukaan festival diwarnai pesan perdamaian dan persahabatan yang disampaikan Pendeta Dr. Anthony Greco, yang mengajak masyarakat membangun hubungan harmonis di tengah keberagaman agama, budaya, dan bangsa.

Dalam sambutannya, Dr. Greco mengutip hikmat Raja Sulaiman untuk menegaskan pentingnya mengedepankan persahabatan dibanding pertikaian.

“Orang bodoh bisa memulai pertengkaran, tetapi orang bijak membangun persahabatan,” ujarnya di hadapan para peserta.

Ajak Bangun Persaudaraan tanpa Memandang Perbedaan

Pendeta Anthony Greco mengungkapkan rasa syukur atas sambutan hangat masyarakat Kabupaten Belu selama kunjungannya di Atambua.

Pria yang mengaku telah mengunjungi lebih dari 50 negara itu menegaskan kehadirannya bukan untuk membandingkan agama ataupun melakukan konversi keyakinan, melainkan membawa pesan kasih yang bersifat universal.

Baca Juga:
Gubernur NTT Tetapkan Matabesi sebagai Desa Budaya Binaan Provinsi, Dorong Pertumbuhan Ekonomi

“Saya memiliki sahabat dari berbagai latar belakang, mulai dari Muslim, Buddha hingga penganut animisme. Saya menemukan bahwa semua manusia memiliki persoalan yang sama, yaitu mencari makna hidup dan sering kali merasa terpisah dari Sang Pencipta,” katanya.

Menurutnya, kasih Tuhan ditujukan kepada seluruh umat manusia tanpa membedakan latar belakang agama maupun budaya.

“Tidak ada yang dikecualikan dari kasih Allah. Karena itu kami datang dengan semangat persahabatan untuk berbagi bersama masyarakat di Atambua,” tambahnya.

Kepedulian terhadap Sesama jadi Pesan Utama

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Greco membagikan sebuah kisah mengenai seorang perempuan yang berteriak meminta pertolongan selama dua jam, namun tidak mendapat bantuan dari puluhan tetangganya.

Melalui kisah itu, ia mengajak masyarakat agar tidak bersikap apatis terhadap penderitaan sesama.

“Jika kita berpikir tentang Tuhan, Dia adalah Pribadi yang mendengar teriakan itu. Itulah alasan Yesus datang membawa damai, pengampunan, persahabatan, dan menunjukkan kasih Bapa kepada manusia,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat Atambua semakin peduli terhadap sesama serta membangun budaya saling membantu dalam kehidupan sehari-hari.

Bagikan Kesaksian Perubahan Hidup

Di hadapan peserta festival, Dr. Greco juga membagikan pengalaman pribadinya mengenai perubahan hidup yang ia alami setelah mengalami perjumpaan rohani dengan Tuhan Yesus.

Ia mengaku pernah menghadapi persoalan hukum pada masa lalu, namun meyakini kasih Tuhan telah mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengalami perubahan melalui kasih, pengampunan, dan kehidupan yang baru.

Mukjizat bukan soal Perpindahan Agama

Dr. Greco juga menyinggung berbagai kesaksian kesembuhan yang pernah terjadi dalam festival serupa di sejumlah negara.

Salah satu kisah yang ia sampaikan adalah pengalaman seorang imam Hindu yang mengalami gangguan pendengaran selama 17 tahun dan mengaku sembuh setelah didoakan dalam sebuah kegiatan pelayanan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tujuan utama festival bukan mengajak orang berpindah agama, melainkan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk merasakan kasih Tuhan dalam kehidupan mereka.

“Ini bukan tentang memindahkan agama, tetapi tentang mengalami kasih Tuhan secara nyata,” katanya.

Baca Juga:
Perkuat Keamanan Perbatasan, Kapolres Belu Terima Kunjungan Kepala Polisi Perbatasan Timor Leste

Festival Berlangsung hingga 5 Juli

Menutup sambutannya, Dr. Anthony Greco mendoakan masyarakat Atambua dan Kabupaten Belu agar terus hidup dalam kasih, persatuan, dan sukacita.

“Doa kami untuk Atambua minggu ini, semoga masyarakat mengalami kasih Tuhan sehingga tercipta kesatuan dan sukacita yang besar. Terima kasih atas persahabatan yang telah dibangun di Atambua. Tuhan selalu menyertai kita semua,” tutupnya.

Festival Persahabatan Internasional 2026 dijadwalkan berlangsung hingga 5 Juli 2026 dengan menghadirkan berbagai kegiatan yang bertujuan mempererat persaudaraan lintas iman, budaya, dan negara, sekaligus memperkuat nilai-nilai toleransi dan persahabatan di Kabupaten Belu. (*/rb1)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatBelu.ID

+ Gabung

  • Bagikan
Exit mobile version