“Tadi kepala PT Pos menyampaikan akan mendukung UMKM. Saya setuju, tetapi dukungannya harus jelas. Bentuk dukungannya adalah komitmen pemotongan tarif pengiriman reguler. Per kilogram berapa menjadi berapa? Itu yang saya butuhkan agar UMKM kita bisa bersaing,” ujarnya.
Menurut Bupati, efisiensi biaya logistik menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing produk lokal Belu, terutama kain tenun Belu pewarna alam yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi pasar yang besar.
Selain persoalan logistik, Willy Lay juga menyoroti belum optimalnya pemasaran digital produk unggulan daerah. Ia mengungkapkan masih banyak masyarakat dari luar daerah yang tertarik membeli tenun Belu, namun belum tersedia platform penjualan resmi yang memadai.
“Kami belum memiliki marketplace. Banyak orang bertanya, bagaimana cara membeli tenun Belu pewarna alam? Nah, ini yang harus kita carikan solusinya,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Bupati meminta PT Pos Indonesia membangun kolaborasi dengan dinas teknis terkait serta menggandeng NTT Mart dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) guna memperkuat promosi dan pemasaran produk tenun Belu.
“PT Pos bisa menggandeng NTT Mart dan Dekranasda untuk mempromosikan tenun kita. Setelah MoU ini, saya menunggu dukungan yang lebih lengkap, bukan hanya janji, tetapi aksi nyata dalam melayani masyarakat Kabupaten Belu ke depan,” tambahnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatBelu.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










