Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental, termasuk meningkatkan risiko gangguan emosi, stres, hingga depresi apabila tidak dikendalikan.
Menurutnya, risiko tersebut menjadi lebih besar pada anak-anak dan remaja yang masih berada dalam masa perkembangan otak.
“Apa dampaknya? Ini yang paling berbahaya. Karena otak masih berkembang, dampaknya bisa berupa sulit fokus belajar, cepat bosan, ketergantungan gawai, gangguan emosi, bahkan risiko depresi meningkat. Dalam jangka panjang bisa mengalami gangguan perkembangan kecerdasan,” kata Prof. Zulys.
Pentingnya Bijak Menggunakan Media Sosial
Fenomena brain rot menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Mengatur durasi penggunaan gawai, membatasi konsumsi konten hiburan instan, serta memperbanyak aktivitas yang melatih konsentrasi dinilai penting untuk menjaga kesehatan otak.
Membaca buku, berdiskusi, berolahraga, hingga mengikuti kegiatan yang merangsang kemampuan berpikir kritis dapat menjadi alternatif untuk mengurangi dampak negatif dari paparan konten digital yang berlebihan.
Di tengah derasnya arus informasi di era digital, menjaga keseimbangan antara hiburan dan aktivitas yang memperkaya kemampuan berpikir menjadi langkah penting untuk mempertahankan kualitas kesehatan mental dan kecerdasan jangka panjang. (*/rb1)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatBelu.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


