Di kawasan Suku Loe Bau Reu Hatak, masyarakat memperagakan proses pemecahan kemiri dan pencelupan benang menggunakan pewarna alami.
Sementara itu, Rumah Adat Loe Bau Reu Kaluk menyuguhkan kopi tumbuk, jagung bunga, dan kacang goreng sebagai hidangan khas bagi para tamu.
Puncak kegiatan berlangsung melalui tradisi Mot Mil Gine, En Gawa Gini Gie, yakni makan bersama secara adat yang melambangkan persaudaraan, kebersamaan, dan penguatan hubungan sosial.
Salah satu atraksi budaya yang menarik perhatian adalah Holek, ritual pengambilan madu hutan. Sebelum memanen madu dari pohon-pohon tinggi, masyarakat terlebih dahulu melantunkan syair dan pantun adat sebagai bentuk penghormatan kepada alam.
Tradisi tersebut menggambarkan filosofi masyarakat Bunaq yang memandang manusia sebagai bagian dari alam sehingga pemanfaatan sumber daya harus dilakukan secara arif dan penuh rasa hormat.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan Tei Lete atau tebe bersama sebagai simbol persatuan, kesepakatan, dan doa keselamatan.
Budaya jadi Harapan Baru bagi Masyarakat Perbatasan
Ritual Ukun Naran Bunaq turut dihadiri rombongan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, pejabat Kementerian Luar Negeri, pemerhati budaya, Loro Lamaknen, Dansatgas Pamtas RI-RDTL, Kasdim 1605/Belu, Ketua DPRD Kabupaten Belu, Camat Lamaknen dan Lamaknen Selatan, para kepala desa, tokoh adat, serta masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatBelu.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










