“Waktu anak di sekolah hanya sepertiga dari waktunya. Dua pertiga waktu lainnya berada di lingkungan keluarga. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesinambungan pola asuh dan pemenuhan gizi di rumah,” katanya.
Karena itu, orang tua diharapkan melanjutkan kebiasaan makan dan minum bergizi ketika anak berada di rumah.
Sekolah dan pemerintah dapat membantu membangun kebiasaan tersebut, tetapi keluarga menjadi lingkungan utama yang menentukan keberlanjutan pola asuh dan pemenuhan gizi anak.
Semua Pihak Diminta Terlibat
Pemkab Belu juga mengajak camat, lurah, guru dan orang tua untuk bersama-sama memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang memadai.
Kolaborasi berbagai pihak dinilai penting agar Gerakan Minum Susu tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama masyarakat.
“Ukuran keberhasilan kita sebagai orang tua dan pemimpin adalah ketika generasi penerus kita mampu melampaui, atau setidaknya setara dengan kita,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa investasi pada kesehatan dan gizi anak merupakan investasi jangka panjang bagi Kabupaten Belu.
Anak-anak yang tumbuh sehat dan mendapatkan dukungan gizi sejak usia dini diharapkan memiliki fondasi yang lebih baik untuk berkembang, belajar dan mencapai potensi mereka.
Gerakan Minum Susu Diharapkan Berjalan Konsisten
Setelah diluncurkan, Gerakan Minum Susu bagi Anak PAUD Kabupaten Belu diharapkan dapat dilaksanakan secara konsisten di berbagai lembaga PAUD.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatBelu.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










